Palangka Raya – Tradisi tak pernah putus. Setiap tanggal 10 Muharam, warga Perum Kalibata Blok A1 dan sekitarnya selalu kompak menggelar aksi sosial memasak Bubur Asyura. Tahun ini, 10 Muharam 1448 H bertepatan dengan Senin, 25 Agustus 2026, warga kembali berkumpul di Kompleks Perum Kalibata Blok A1 No 23 untuk memasak secara swadaya dan membagikannya gratis ke warga serta anak yatim.
Bubur Asyura: Dari Kisah Nabi Nuh hingga Perang Badar
Bubur Asyura bukan sekadar hidangan. Ia menyimpan sejarah panjang. Ada 2 riwayat utama yang melatarbelakanginya:
1. Kisah Nabi Nuh: Saat kapal Nabi Nuh bersandar setelah banjir besar, beliau memerintahkan pengikutnya mengumpulkan sisa bahan makanan di kapal. Semua dicampur dan dimasak jadi bubur sebagai tanda syukur atas keselamatan.
2. Kisah Perang Badar: Ketika pasukan Muslim kehabisan bekal karena jumlah prajurit bertambah, Rasulullah SAW meminta sahabat mengumpulkan sisa makanan. Semua dimasukkan ke satu kuali besar agar cukup dibagikan ke seluruh pasukan.
Dari 2 kisah itu lahir filosofi yang hidup sampai sekarang: bersyukur, berbagi, dan bergotong royong.
Filosofi Nusantara: Gotong Royong untuk Sesama
Di Indonesia, Bubur Asyura punya makna khusus. Di Kalimantan Selatan orang Banjar menyebutnya Bubur Asyura dengan 41 macam bahan: beras, jagung, umbi, sayur, kaldu, daging/ikan. Di Jawa Tengah & Jawa Timur dikenal sebagai Bubur Suro untuk memperingati bulan Sura.
“Intinya sama: masak rame-rame, bagi ke semua, utamakan yang membutuhkan dan anak yatim,” begitu semangat warga Kalibata Blok A1.
Di Perum Kalibata Blok A1 No 23, tradisi ini dijaga istiqamah tiap tahun. Ibu-ibu bawa bahan dari rumah, bapak-bapak siapkan kuali besar, anak-anak bantu bungkus. Hasilnya dibagikan gratis keliling blok. Nggak ada sekat RT/RW. Yang penting silaturahmi jalan.
Tradisi yang Menguatkan Komunitas
Menurut warga, masak Bubur Asyura mengajarkan 3 nilai ke anak-cucu:
1. Syukur – bersyukur atas nikmat keselamatan seperti Nabi Nuh
2. Kebersamaan – kerja bareng tanpa pamrih
3. Sedekah – berbagi rezeki ke tetangga, tukang sapu, satpam, sampai anak yatim
“Setahun sekali kami kumpul begini. Capek iya, tapi lihat warga senyum bawa bubur pulang, capeknya hilang,” ujar salah satu inisiator kegiatan.
Tradisi Bubur Asyura warga Kalibata Blok A1 jadi bukti: nilai Islam rahmatan lil ‘alamin hidup lewat aksi kecil di lingkungan.
(Ansyari-LNNews)*
Tidak ada komentar