
Jakarta , LN-NEWS.ID
Volkswagen berencana memangkas lebih dari 4.000 karyawan Porsche sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran. Rencana tersebut muncul setelah Volkswagen memangkas proyeksi laba akibat masalah yang dihadapi Porsche.
Dikutip dari Reuters, Senin (21/9/2026), dokumen terkait kesepakatan terbaru dewan pengawas Volkswagen mengusulkan pemangkasan sekitar 4.100 karyawan Porsche yang merupakan anak usahanya.
Langkah tersebut ditujukan untuk mengatasi kekurangan efisiensi biaya overhead sekitar 700 juta euro atau US$ 803,8 juta, atau setara Rp 14,30 triliun (kurs Rp 17.800). Pemangkasan akan dilakukan di luar kesepakatan pengurangan tenaga kerja yang telah ada.
Pada Juli lalu, manajemen Porsche dan perwakilan pekerja telah menyepakati tambahan PHK terhadap 5.000 pekerja, setelah sebelumnya menetapkan pemangkasan 4.000 karyawan.
Dengan demikian berdasarkan rencana yang saat ini telah disepakati, jumlah tenaga kerja Porsche yang akan dipangkas hingga 2035 mencapai sekitar seperlima dari total pekerjanya. Volkswagen dan Porsche menolak berkomentar terkait laporan tersebut.
Sebagai perusahaan induk, Volkswagen hanya dapat memberikan rekomendasi terkait langkah tersebut dan tidak dapat mewajibkan Porsche untuk menjalankannya. Volkswagen dilaporkan memangkas target margin setahun penuh.
Perusahaan memperkirakan margin maksimal hanya 1%, jauh lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4-5,5%. Revisi tersebut sebagian besar disebabkan penurunan nilai investasi di Porsche.
CEO Porsche, Michael Leiters tengah menghadapi tekanan untuk menjalankan strategi pemulihan setelah penjualan di China anjlok dan perubahan strategi kendaraan listrik perusahaan menimbulkan biaya besar.
Jaguar Land Rover Bakal PHK 4.000 Karyawan
Pabrik mobil raksasa Jaguar Land Rover (JLR) menyatakan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 4.000 karyawan. Rencananya pemangkasan ini akan dilakukan bertahap selama dua tahun ke depan yang sebagian besar menyasar karyawan kantor pusat di Inggris.
Melansir BBC, Rabu (9/9/2026), keputusan PHK massal ini diambil sebagai respons atas berbagai hambatan usaha yang kini sedang dialami JLR. Mulai dari persaingan dengan mobil listrik murah China, hingga serangan siber serta imbas kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
“Perusahaan berkomitmen untuk mendukung semua orang dengan penuh perhatian, keadilan, dan rasa hormat melalui proses pemutusan hubungan kerja,” kata CEO Jaguar Land Rover, PB Balaji.
“Industri otomotif menghadapi tantangan signifikan, dengan perubahan teknologi di tengah persaingan ketat dan ketidakpastian geopolitik yang berkelanjutan,” tambahnya.
Perusahaan berharap dapat mencapai pengurangan tersebut melalui program PHK sukarela dengan jangka waktu pengajuan hingga 4 Oktober.
Namun di luar itu JLR akan melakukan PHK wajib meski dengan persyaratan yang kurang menguntungkan bagi perusahaan. Karyawan yang terkena pemangkasan dikatakan akan menerima email dalam beberapa hari mendatang.
Melalui PHK massal ini, perusahaan menargetkan penghematan biaya sekitar 1,7 miliar poundsterling atau Rp 40,42 triliun (kurs Rp 23.780/pounds Inggris) dalam dua tahun ke depan.
Sederet Masalah Jaguar Land Rover
Untuk diketahui, produsen mobil asal Inggris ini mengalami penurunan penjualan imbas kalah saing dengan mobil dari China, sebuah negara yang awalnya dilihat JLR sebagai pasar untuk pertumbuhan daripada sumber persaingan.
Masalah jangka panjang Jaguar Land Rover semakin diperparah setelah perusahaan mengalami serangan siber tahun lalu. Hal ini sempat menyebabkan perusahaan yang mempekerjakan 43.000 orang di seluruh dunia itu menghentikan lini produksi mereka selama lebih dari sebulan.
Belum lagi, aturan tarif yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump juga merugikan perusahaan karena tidak seperti banyak pesaingnya, mereka tidak memiliki pabrik di AS.
Dalam laporan keuangan tahunan hingga akhir Maret, JLR menyatakan bahwa tarif AS dan serangan siber merupakan alasan utama mengapa penjualannya anjlok 20% menjadi 22,9 miliar poundsterling (Rp 544 triliun) dari 29 miliar poundsterling (Rp 689 triliun) pada dua tahun sebelumnya. /detik/
Tidak ada komentar