
Jakarta – LN-NEWS.ID
Belakangan ini, perbincangan mengenai skin booster asal Korea Selatan yang disebut-sebut berasal dari “kulit mayat” ramai di media sosial.
Istilah yang terdengar ekstrem ini memicu rasa penasaran sekaligus kekhawatiran masyarakat: apa sebenarnya perbedaan prosedur ini dengan skin booster biasa, dan apakah memang jauh lebih efektif?
Perbedaan Komposisi: Hyaluronic Acid vs Matriks Jaringan Kompleks
Perbedaan utama antara skin booster konvensional dan prosedur yang tengah viral ini terletak pada bahan dasar yang disuntikkan ke dalam kulit:
Skin booster biasa menggunakan Hyaluronic Acid (HA) murni. Kandungan ini bekerja dengan menarik molekul air untuk memberi hidrasi mendalam pada kulit serta merangsang pembentukan kolagen secara alami.
Sementara itu, kandungan skin booster yang disebut-sebut menggunakan jaringan kulit “mayat” sebenarnya menggunakan Human Acellular Dermal Matrix (hADM), yaitu ekstrak matriks jaringan dermis donor manusia yang telah diproses secara medis.
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi Indonesia (PERDOSKI), Dr dr Hanny Nilasari, Sp.DVE memaparkan perbedaan mendasar dari sisi struktur dan komposisi kedua produk tersebut.
“Skin booster konvensional umumnya berbasis Hyaluronic Acid untuk menghidrasi dan memicu kolagen alami. Sementara HADM membawa komponen dermis yang lebih lengkap seperti kolagen, elastin, dan HA secara langsung.” jelasnya kepada detikcom saat diwawancarai, Rabu (16/9/2026).
hADM Bukan Hal Baru di Dunia Medis?
Adapun, sebenarnya penggunaan hADM di bidang kesehatan bukanlah hal baru. Biasanya, hADM digunakan untuk bedah rekonstruksi kulit dan treatment pada luka bakar.
Oleh karena itu, dr Hanny meluruskan, narasi skin booster “suntik mayat” terlalu dilebih-lebihkan.
“Istilah ‘suntik kulit mayat’ itu terlalu berlebihan dan sensasional. Yang digunakan sebenarnya adalah HADM atau Human Acellular Dermal Matrix, yaitu matriks jaringan kulit donor yang sudah melalui proses pemurnian dan sterilisasi tingkat tinggi,” tegasnya.
Meskipun begitu, ia tetap menyarankan publik untuk mencari tahu asal-usul jaringan kulit manusia yang digunakan dalam skin booster hADM. Sebab, penggunaannya sebagai tren kecantikan masih sangat baru. detik/
Tidak ada komentar